Contoh Laporan PTK

MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING

UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN

KONSEP UNSUR-UNSUR GEOSFER MAPEL GEOGRAFI KELAS X

SMAN 1 SARANG REMBANG

(Contoh) Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas

Oleh

Drs. Sri Wasono Widodo, M.Pd

NIP. 131626323

Widyaiswara LPMP Jateng


MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING

UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN

KONSEP UNSUR-UNSUR GEOSFER MAPEL GEOGRAFI KELAS X

SMAN 1 SARANG REMBANG

(Contoh) Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas

disusun untuk …

Oleh

Drs. Sri Wasono Widodo, M.Pd

NIP. 131626323

Widyaiswara LPMP Jateng


PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Drs. Sri Wasono Widodo, M.Pd.
NIP : 131626323
Jabatan : Widyaiswara Madya
Unit Kerja : Lembaga Penjaminan Mutu  Pendidikan Jawa Tengah
Alamat : Jl. Kyai Mojo Srondol, Semarang

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan penelitian berjudul  yang berjudul Model Pembelajaran Project based learning untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Unsur-unsur geosfer Mapel Geografi Kelas XI SMAN 1 Sarang Rembang ini benar-benar merupakan karya saya sendiri; bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang kemudian saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya, kecuali yang secara tertulis diacu dalam laporan ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Semarang, 24 April 2009

Yang membuat pernyataan,

Drs. Sri Wasono Widodo, M.Pd.

LEMBAR  PENGESAHAN

1. Judul Makalah : Model Pembelajaran Project based learning untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Unsur-unsur geosfer Mapel Geografi Kelas X SMAN 1 Sarang Rembang
2. Untuk : Pengusulan Angka Kredit
3. Penulis
a. Nama Lengkap : Drs. Sri Wasono Widodo, M.Pd.
b. NIP : 131626323
c. Pangkat/Gol. : Pembina Tk.I IV/b
d. Jabatan : Widyaiswara Madya
e. Unit Kerja : LPMP Jawa Tengah
Semarang,  24 April  2009
Kepala LPMP Jawa Tengah
H.Makhali                                                                                                    NIP. 130937448


ABSTRAK

Widodo, Sri Wasono. Model Pembelajaran Project based learning untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Unsur-unsur geosfer Mapel Geografi Kelas XI SMAN 1 Sarang Rembang

Kata Kunci: Model Pembelajaran, Project based learning, Hasil Belajar..

Materi Unsur-unsur geosfer sangat penting bagi kehidupan anak karena kondisi wilayah Indonesia yang rawan gempa. Namun di dalam kegiatan pembelajaran –berdasarkan pengalaman penulis selama ini- materi ini termasuk sulit dipahami siswa. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini merupakan upaya untuk mengatasi masalah kesulitan siswa dalam memahami materi tersebut.

Model Pembelajaran yang diimplementasikan di dalam PTK ini adalah Project based learning. Model ini dikembangkan dari Teori Belajar Konstruktivisme, termasuk di dalamnya Teori Perkembangan Kognitiv dari Piaget, Teori Zone Perkembangan Proksimal Vygotski, dan Teori Pemrosesan Informasi.

Setelah melalui dua siklus pembelajaran, …

ABSTRACT

Widodo, Sri Wasono. Project based learning Teaching Model for …. Classroom Action Research Report.

Keywords: Teaching Model, Problems Based Learning, Learning Outcomes.

Learning materials about Tectonism is very important for student’s daily life, because ….

.

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, penulis menyelesaikan tulisan ini. Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas berjudul Model Pembelajaran Project based learning untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Unsur-unsur geosfer Mapel Geografi Kelas X SMAN 1 Sarang Rembang ini disusun untuk pengusulan angka kredit dari unsur pengembangan profesi.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Kepala, Kepala Sub Bagian, dan semua Kepala Seksi Lembaga Penjaminan Mutu (LPMP) Jawa Tengah yang telah memfasilitasi tersusunnya Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada rekan sejawat Widyaiswara atas berbagai sumbang saran yang sangat berharga dalam tulisan ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada pihak-pihak lain, yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu mempersiapkan atau memberikan masukan sehingga tulisan ini dapat terselesaikan.

Segala upaya telah penulis lakukan untuk kesempurnaan makalah hasil penelitian pengembangan ini, namun di dalamnya masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan komentar yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnakan tulisan ini di masa yang akan datang.

Semoga tulisan ini bermanfaat tidak hanya bagi LPMP, para widyaiswara dan peserta pendidikan dan pelatihan, tetapi juga bagi semua pihak yang berkaitan dengan kegiatan penilaian pada umumnya.

Penulis


DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Lembar Pengesahan ii
Kata Pengantar iii
Daftar Isi iv
Daftar Tabel (bila ada) v
Daftar Gambar (bila ada) vi
Daftar Lampiran (bila ada) vii
Abstrak viii
BAB I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah dst.
C. Pembatasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Manfaat Penelitian
BAB II. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Project based learning
2. Pemahaman Konsep
B. Temuan Hasil Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Berpikir
D. Hipotesis Tindakan
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian (lokasi dan waktu)
B. Subjek Penelitian
C. Sumber Data
D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
E. Validasi Data
F. Analisis Data
G. Indikator Kinerja/Indikator Keberhasilan (bila ada)
H. Prosedur Penelitian
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
B. Deskripsi Siklus I
1. Perencanaan
2. Tindakan
3. Hasil Pengamatan
4. Refleksi
C. Deskripsi Siklus II
1. Perencanaan
2. Tindakan
3. Hasil Pengamatan
4. Refleksi
D. Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus
E. Hasil Penelitian
BAB V. PENUTUP
A. Simpulan
B. Implikasi/Rekomendasi
C. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN


DAFTAR GAMBAR


DAFTAR LAMPIRAN

Ijin penelitian dari Kepala Sekolah

Pernyataan Peneliti

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Lembar Kerja Siswa

Instrumen Penelitian

Contoh/sampel instrumen yang telah diisi

Contoh hasil ulangan siswa

Ijin penelitian dari kepala sekolah

Daftar Hadir siswa (saat siklus)

Copy jurnal mengajar (saat siklus)

Foto-foto (Foto-foto yang mendukung proses bisa masuk pada hasil ataupun pembahasan)


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, paradigma kegiatan belajar mengajar bergeser ke kegiatan pembelajaran. Para guru dituntut untuk mengembangkan model-model pembelajaran yang mengedepankan peran aktif peserta didik, memberikan kesempatan seluas-luasnya pada pengembangan potensi siswa, …

B. Identifikasi Masalah

Masalah utama yang Peneliti hadapi dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas meliputi beberapa hal yang bisa dikategorikan ke dalam empat hal. Pertama adalah masalah yang berkaitan dengan substansi materi mata pelajaran. Kedua berkaitan dengan motivasi siswa. Ketiga berkaitan dengan Metode Mengajar. Keempat adalah masalah penggunaan alat dan media pembelajaran. Apabila dirinci maka masalah yang penulis hadapi antara lain sbb:

  • masalah belajar siswa, yang berkaiatan dengan penguasaan atau pemahaman konsep-konsep sulit yang membutuhkan pemahaman yang mendalam; a.l. unsur-unsur geosfer
  • pengembangan profesionalisme guru dalam peningkatan mutu perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembelajaran terutama berkaitan dengan referensi yang aktual;
  • pengelolaan dan pengendalian pembelajaran, terutama teknik memotivasi, teknik modifikasi perilaku dan teknik pengembangan diri bagi siswa yang bermacam-macam karakteristiknya;
  • desain, strategi, dan model pembelajaran di kelas, terutama penggunaan model pembelajaran yang menuntut kreativitas siswa, berpikir tingkat tinggi (high order thinking) dan kerjasama antar siswa.
  • penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai, terutama pengembangan sikap ilmiah di dalam diri siswa;
  • alat bantu, media dan sumber belajar, yang mampu memfasilitasi siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit dan membutuhkan pemahaman yang mendalam.
  • sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran, sehingga memacu siswa untuk lebih mengapresiasi proses pembelajaran di samping penghargaan atas hasil belajar.

Namun karena keterbatasan waktu dan tenaga, dari berbagai permasalahan di atas penulis buat prioritas permasalahan sehingga akan diatasi terlebih dahulu yang mendapat prioritas tertinggi dengan kategori:

  • masalah yang diteliti benar-benar terjadi di sekolah (riil);
  • masalah tersebut penting dan mendesak untuk dipecahkan.
  • penulis mampu untuk mengatasi masalah tersebut ditinjau dari segi waktu, dan sumber daya yang tersedia.

Beberapa praktisi pendidikan mengelompokkan PBL sebagai bagian dari model pembelajaran yang berdasarkan Teori Belajar dari Bruner (KTSP SMP: 2007)

C. Pembatasan Masalah

Dengan segala pertimbangn seperti yang penulis deskripsikan pada subbab sebelumnya,  penelitian ini penulis batasi pada implementasi model pembelajaran Project based learning untuk meningkatkan pemahaman konsep Unsur-unsur geosfer. Pertimbangannya adalah konsep Unsur-unsur geosfer sangat penting dikuasai siswa mengingat wilayah Indonesia yang rentan terhadap terjadinya bencana gempa. Project based learning digunakan karena berdasarkan berbagai kajian teoritik model pembelajaran ini menuntut siswa untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran, mengapresiasi proses pembelajaran, bekerjasama dalam tim, dan memecahkan masalah.

D. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini diajukan rumusan masalah sbb.:

  1. Apakah implementasi model pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan pemahaman konsep unsur-unsur geosfer?
  2. Seberapa jauh peningkatan hasil belajar siswa tentang unsur-unsur geosfer melalui implementasi model pembelajaran Project Based Learning?
  3. Bagaimana implementasi model pembelajaran Project Based Learning pada kegiatan pembelajaran tentang unsur-unsur geosfer?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

  1. meningkatkan pemahaman konsep unsur-unsur geosfer melalui implementasi model pembelajaran Project Based Learning.
  2. meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Unsur-unsur geosfer.
  3. mengembangkan model pembelajaran Project Based Learning.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang meliputi:

  1. Manfaat untuk siswa  adalah meningkatnya penguasaan konsep tentang unsur-unsur geosfer.
  2. Manfaat untuk guru adalah memperdalam pemahaman tentang model pembelajaran Project Based Learning dan menguasai teknik implementasinya.
  3. Manfaat untuk sekolah adalah meningkatnya kualitas pembelajaran karena adanya inovasi model pembelajaran Project Based Learning sehingga berdampak pada peningkatan kualitas output dan outcome sekolah.
  4. Manfaat untuk …


BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

  1. A. Kajian Teori
    1. 1. Model Pembelajaran Project Based Learning

Problem-based learning (PBL) merupakan model pembelajaran berpusat pada siswa di mana siswa secara kolaboratif memecahkan masalah (sehingga ada yang menyebut problem based learning) dan melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah diperolehnya. Pembelajaran ini dipelopori dan digunakan secara ekstensif di McMaster University, Hamilton, Ontario, Canada.  Karakteristik dari PBL antara lain:

  • Pembelajaran berangkat dari permasalahan yang menantang, dengan jawaban terbuka.
  • Siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kolaboratif kecil.
  • Guru berperan sebagai “fasilitator” kegiatan pembelajaran.

Selanjutnya, siswa didorong untuk berperan secara bertanggung jawab untuk kelompoknya dan mengorganisasi serta mengarahkan proses belajarnya dengan dukungan dari tutor atau instrukturnya. Para penggagas PBL berpendapat bahwa model pembelajaran ini dapat digunakan untuk memperkuat isi pembelajaran (pengetahuan) dan mempercepat perkembangan komunikasi, pemecahan masalah, dan ketrampilan mengarahkan diri sendiri (self directed learning).

Model pembelajaran PBL berpijak pada teori belajar konstruktivisme. Para konstruktivis berpandangan bahwa di dalam PBL peran seorang instruktur (dalam pembelajaran di kelas kita berarti guru) adalah lebih cenderung pada memberikan bimbingan terhadap proses pembelajaran dan bukan menyediakan pengetahuan (Hmelo-Silver & Barrows dalam Wikipedia:2009). Dari perspektif ini, umpan balik dan refleksi terhadap proses pembelajaran serta dinamika yang terjadi dalam kegiatan kelompok merupakan hal yang esensial dalam PBL.

PBL memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan model pembelajaran lain. Pertama, dalam pembelajaran PBL semua siswa berperan aktif dan student centered atau pembelajaran berpusat pada siswa. Hal ini berbeda dengan pembelajaran konvensional di mana peran guru masih dominan. Kedua, pembelajaran nberfokus pada tujuan pembelajaran tertentu sesuai kurikulum. Ketiga,

Proyek berfokus pada tujuan pembelajaran yang penting yang sejajar

dengan standar.

Proyek dikendalikan pertanyaan-pertanyaan dalam lingkup kurikulum (CFQ)

Proyek melibatkan penilaian dalam proses dan memiliki beragam jenis.

Proyek melibatkan tugas-tugas dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan

dalam periode waktu tertentu.

Proyek berhubungan dengan kehidupan nyata.

Siswa mendemonstrasikan pengetahuan dan kecakapan melalui karya dan

kinerja yang dipublikasikan, dipresentasikan, atau dipertunjukkan.

Teknologi mendukung dan meningkatkan pembelajaran siswa.

Kecakapan berpikir bersifat integral terhadap kerja proyek.

Berbagai strategi pembelajaran mendukung gaya belajar yang beragam.

  1. a. Konstruktivisme Landasan Teoritis PBL

Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses di mana pembelajar secara aktif mengkonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau ada pada saat itu. Dengan kata lain, ”belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang dari pengalamannya sendiri oleh dirinya sendiri”. Dengan demikian, belajar menurut konstruktivis merupakan upaya keras yang sangat personal, sedangkan internalisasi konsep, hukum, dan prinsip-prinsip umum sebagai konsekuensinya seharusnya diaplikasikan dalam konteks dunia nyata. Guru bertindak sebagai fasilitator yang meyakinkan siswa untuk menemukan sendiri prinsip-prinsip dan mengkonstruksi pengetahuan dengan memecahkan problem-problem yang realstis. Konstruktivisme juga dikenal sebagai konstruksi pengetahuan sebagai suatu proses sosial. Kita dapat melakukan klarifikasi dan mengorganisasi gagasan mereka sehingga kita dapat menyuarakan aspirasi mereka. Hal ini akan memberi kesempatan kepada kita mengelaborasi apa yang mereka pelajari. Kita menjadi terbuka terhadap pandangan orang lain Hal ini juga memungkinkan kita menemukan kejanggalan dan inkonsistensi karena dengan belajar kita bisa mendapatkan hasil terbaik. Konstruktivisme dengan sendirinya memiliki banyak variasi, seperti Generative Learning, Discovery Learning, dan knowledge building. Mengabaikan variasi yang ada, konstruktivisme membangkitkan kebebasan eksplorasi siswa dalam suatu kerangka atau struktur.

Dalam sidut pandang laiinya. konstruktivisme merupakan seperangkat asumsi tentang keadaan alami belajar dari manusia yang membimbing para konstruktivis mempelajari teori metode mengajar dalam pendidikan. Nilai-nilai konstruktivisme berkembang dalam pembelajaran yang didukung oleh guru secara memadai berdasarkan inisiatif dan arahan dari siswa sendiri.

Ada istilah lain yang sering disalahartikan sama dengan konstruktivisme, yaitu maturationisme. Konstruktivisme (yang merupakan perkembangan kognitif) merupakan suatu aliran yang “yang didasarkan pada gagasan bahwa proses dialektika atau interaksi dari perkembangan dan pembelajaran melalui konstruksi aktif dari siswa sendiri yang difasilitasi dan dipromosikan oleh orang dewasa ” Sedangkan, “Aliran maturationisme romantik didasarkan pada gagasan bahwa perkembangan alami siswa dapat terjadi tanpa intervensi orang dewasa dalam lingkungan yang penuh kebebasan ” (DeVries et al., 2002).

Beberapa praktisi pendidikan berpandangan bahwa PBL juga berdasarkan Teori Belajar dari Jerome F. Bruner (Kurikulum SMP 2007). Karya pentingnya yang secara eksplisit mengawali kognitivisme diterbitkan tahun 1956, A Study in Thinking. Dalam bukunya tersebut Bruner mendefinisikan proses kognitif sebagai “alat bagi organisme untuk memperoleh, menyimpan, dan mentransformasi informasi.” Bruner juga pelopor utama konstruktivisme.
Gagasan utama Bruner didasarkan kategorisasi. “Memahami adalah kategorisasi, konseptualisasi adalah kategorisasi, belajar adalah membentuk kategori-kategori, membuat keputusan adalah kategorisasi.” Bruner berpendapat bahwa orang menginterpretasikan dunia melalui persamaannya dan perbedaannya. Sebagaimana halnya Taksonomi Bloom, Bruner berpendapat tentang adanya suatu sistem pengkodean di mana orang membentuk susunan hierarkhis dari kategori-kategori yang saling berhubungan. Gagasannya yang disebut instructional scaffolding (dukungan dalam pembelajaran) ini berupa hierarkhi kategori berjenjang di mana semakin tinggi semakin spesifik, menyerupai gagasan Benjamin Bloom tentang perolehan pengetahuan.
Bruner mengemukakan ada dua mode utama dalam berpikir: naratif dan paradigmatik. Dalam berpikir naratif, pikiran fokus pada berpikir yang sekuensial, berorientasi pada kegiatan, dan dorongan berpikir secara rinci. Dalam berpikir paradigmatik, pikiran melampaui kekhususan sehingga memperoleh pengetahuan yang sistematis dan kategoris. Pada mode pertama, proses berpikir seperti halnya cerita atau drama. Pada mode kedua, berpikir secara berstruktur seperti halnya menghubungkan berbagai gagasan mendasar dengan cara yang logis.

Dalam penelitiannya terhadap perkembangan anak (1966), Bruner menelorkan gagasan tentang tiga mode representasi: representasi enactive (berbasis tindakan), representasi iconic (berbasis gambaran), dan representasi simbolik (berbasis bahasa). Semua representasi mode tersebut tidak bisa dijelaskan sebagai jenjang yang terpisah, namun terintegrasi dan hanya terpisah secara sekuensial selagi “diterjemahkan” satu sama lain. Representasi simbolik menjadi mode terakhir, karena yang paling misterius dari ketiganya. Teori Bruner berpendapat adalah produktif ketika menghadapi materi baru dengan mengikuti representasi secara progressif dari enactive ke iconic baru ke simbolik; bahkan hal ini juga berlaku bagi pembelajar dewasa. Untuk para perancang kegiatan pembelajaran, karya Bruner tersebut juga berpendapat bahwa seorang pembelajar bahkan ketika masih belia sudah mampu mempelajari materi dalam waktu lama apabila materi tersebut diorganisasi secara baik. Pendaapat ini sangat berbeda dengan teori Piaget dan teoris tentang tahapan perkembangan yang lain.

  1. b. Sintaks
  • Orientasi siswa kepada masalah
  • Mengorganisasi siswa untuk belajar
  • Membimbing penelitian individual dan kelompok
  • Mengembangkan dan mempresentasikan hasil kerja kelompok
  • Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
  1. c. Sistem Sosial yang Dikembangkan
  • Terbuka
  • Demokratis
  • Peran aktif semua siswa
  • Norma Inquiry terbuka
  • Siswa bebas mengungkapkan pendapat
  1. d. Tujuan Pelaksanaan Model

Tujuan pengembangan model pembelajaran PBL ditinjau dari kepentingan siswa diantaranya agar:

  • Bekerja bersama orang lain.
  • Mengambil keputusan secara bijaksana.
  • Mengambil inisiatif.
  • Menyelesaikan masalah-masalah yang rumit.
  • Menguasai diri.
  • Berkomunikasi efektif.
  1. e. Pola Interaksi

Guru:

Menjelaskan tentang logistik yang diperlukan dan tujuan diadakannya masing-masing logistic.

Memotivasi agar setiap siswa terlibat secara aktif dalam setiap kegiatan  pemecahan masalah

Membantu siswa memahami tigas-tigas yang diberikan beserta tujuanya, dan bagaimana mengorganisasikannya

Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai

  1. f. Sarana Pendukung
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: