Pembelajaran Kooperatif

KAJIAN TERHADAP COOPERATIVE LEARNING

Oleh: Roger T. dan David W. Johnson

Terjemahan oleh Sri Wasono Widodo

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

Dipublikasikan di:

J. Thousand, A. Villa and A. Nevin (Eds), Creativity and Collaborative Learning; Brookes Press, Baltimore, 1994.

Tanpa kerjasama dari para anggotanya, suatu masyarakat tak akan dapat bertahan hidup, , dan suatu masyarakat manusia bisa bertahan hidup karena sifat kerja sama antar angotanya menyebabkan bertahan hidup menjadi mungkin …. Sesungguhnya bukanlah keberuntungan individu di sana dan di sini, namun adalah kelompoknya. Pada masyarakat manusia individu yang paling mungkin untuk bertahan hidup adalah mereka yang yang dapat mengerjakan sesuatu paling baik dalam kelompok.

(Ashley Montagu, 1965)

Bagaimana persepsi siswa satu dengan siswa lainnya dan baimana siswa berinteraksi satu sama lain seringkali diabaikan di dalam kegiatan pembelajaran konvensional. Banyak sekali jenis pelatihan yang ditujukan untuk membantu guru merancang kegiatan pembelajaran yang mem berikan peluang bagi siswa untuk saling berinteraksi secara memadai. Baik dengan siswa lainnya maupun dengan magteri pembelajaran (seperti buku teks, program-program kurikulum) dan banyak waktu dihabiskan pada bagaimana guru aseharusnya berinteraksi dengan siswa dan materi (seperti buku teks, program-program kurikulum) dan banyak waktu dihabiskan pada bagaimana seharusnya guru berinteraksi dengan siswa, tetapi bagaimana seharusnya siswa berinteraksi dengan siswa lainnya seringkali diabaikan. Seharusnya tidaklah demikian. Bagaimana guru merancang pola interaksi antar siswa sehingga banyak yang perlu dikaji seperti bagaimana sebaiknya siswa belajar, bagaimana perasaan mereka terhadap sekolah dan para guru, bagaimana perasaan mereka terhadap siswa lain, dan sejauh mana rasa percaya diri mereka.

Ada tiga cara mendasar bagi siswa dalam berinteraksi satu sama lain. Mereka dapat saling berkompetisi untuk dapat melihat siapakah yang menjadi “terbaik,” mereka dapat bekerja secara individual untuk mencapai tujuan tanpa memperhatikan siswa lainnya, atau merka dapat  bekerja secara kooperatif dengan saling memperhatikan kepentingan terhadap proses belajar siswa lainnya maupun proses belajar dirinya sendiri. Dari ketiga pola interaksi, kompetisi seringkali dihadirkan secara lebih dominan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa di AS memandang sekolah sebagai ajang kompetisi di mana mereka harus berupaya untuk lebih baik dari yangh lainnya. Ekspektasi terhadap kompetisi ini sudah begitu menyebar mulai siswa memasuki sekolah dan tumbuh semakin kuat selagi mereka belajar di sekolah (Johnson & R. Johnson, 1991). Sikap kooperatif antar siswa yang merayakan kesuksesan satu sama lain, saling memotivasi untuk mengerjakan PR, dan melajar bekerja bersama tanpa memandang latar belakang warna kulit ataupun gender, pintar atau biasa saja, cacat atau normal, masing sangat jarang dijumpai.

KONSEP DASAR

Meskipun ketiga pola interaksi tidak sama keefektivannya dalam di dalam membantu siswa mempelajari konsep dan keterampilan, adalah sangat penting bahwa siswa belajar untuk berinteraksi secara efektif pada ketiga cara di atas. Para siswa akan menghadapi situasi di mana ketiga jenis interaksi berlangsung dan mereka harus belajar mengatur bagaimana supaya interaksi berlangsung secara efektif dalam menunjang kegiatan pembelajaran. Mereka juga seharusnya dapat memilih pendekatan interaksi yang cocok untuk setiap situasi yang berbeda. Suatu situasi yang interpersonal, kompetitif memiliki karakteristik tujuan interdependensi negatif di mana ketika seseorang menang, seseorang lainnya berarti kalah; sebagai misal, lomba mengeja atau balapan melawan siswa lain atau berkompetisi mengerjakan matematika di papan tulis. Di dalam situasi pembelajaran yang individualistik, setiap siswa independen satu sama lain dan mengerjakan sesuatu berdasarkan kriteria di mana keberhasilan mereka bergantung pada performa mereka sendiri di dalam memenuhi kriteria tersebut. Keberhasilan ataupun kegagalan dari siswa lainnya tidak berpengaruh terhadap skornya. Sebagai misal, di dalam mengeja, dengan semua siswa mengeja secara individual, siswa tertentu yang mengejanya benar 90% atau lebih berarti berhasil. Di dalam situasi pembelajaran kooperatif, interaksi memiliki ciri khas adanya interdependensi atau saling kebergantungan satu sama lain yang terikat oleh tujuan yang positif namun masih dalam kerangka tanggung jawab pribadi. Interdependensi tujuan positif mensyaratkan penerimaan semua anggota kelompok dengan prinsip “tenggelam atau berenang bersama.” Suatu kelas kooperatif yang sedang menyelenggarakan pembelajaran tentang mengeja di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil di mana anggotanya saling membantu mempelajari kata-kata dengan tujuan agar skor tes untuk mengeja secara individual semuanya tinggi keesokan harinya.  Skor setiap siswa dalam tes akan bertambah dengan adanya bonus poin jika suatu kelompok sukses secara bersama (berdasarkan kriteria yang telah ditentukan). Di dalam suatu situasi pembelajaran kooperatif, seorang siswa harus memperhatikan dengan sebaik-baiknya cara dirinya mengeja dan bagaimana cara siswa lain dalam kelompoknya mengeja. Payung kooperatif tersebut dapat juga dikembangkan meluas ke seluruh siswa dalam kelas tersebut jika hadiah poin bonus diberikan kepada seluruh siswa ketika kelas tersebut berhasil mengeja lebih banyak kata secara luar biasa, namun kasus seperti ini membutuhkan penyusunan kriteria yang ekstra hati-hati dari guru.

Terdapat perbedaan mendasar antara kerja kelompok biasa dengan kerja kelompok yang didesain secara kooperatif. Sekelompok siswa yang bekerja bersama mengelilingi satu meja sangat berbeda dengan sekelompok siswa yang secara sistematis dan terencana bekerjasama secara kooperatif. Pada sekelompok siswa yang duduk bersama satu meja, berbincang banyak hal, namun tidak terstruktur dalam kelompok kooperatif,  tidak akan terjadi proses interdependensi secara positif. Barangkali kelompok seperti ini bisa dikatakan sebagai belajar individualistik sambil berbincang-bincang. Untuk menjadi suatu situasi belajar kooperatif dibutuhkan suatu tujuan bersama yang bisa diterima semua anggota kelompok di mana  keseluruhan anggota kelompok diberikan reward atas upayanya. Jika suatu kelompok siswa ditugaskan menyusun suatu laporan, namun hanya satu orang saja yang mengerjakan dan anggota yang lain hany bercanda saja, maka tidak bisa dikatakan kelompok kooperatif. Suatu kelompok kooperatif memiliki rasa tanggung jawab individual yang berarti semua anggota membutuhkan pengetahuan tentang materi (atau caranya mengeja dalam contoh di atas) agar kelompok secara keseluruhan bisa disebut sukses.

UNSUR UNSUR PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Hanya dalam situasi tertentu suatu upaya kooperatif bisa diharapkan lebih produktif dibandingkan upaya individualistik dan kompetitif. Situasi dan kondisi yang harus diciptakan dalam suatu pembelajaran kooperatif adalah:

  1. Terjadinya proses interdependensi (saling bergantung) yang dapat diamati dengan jelas.
  2. Terjadi interaksi promotif (face-to-face) yang sangat intensif.
  3. Dapat diamatinya dengan jelas tanggung jawab setiap individu dan tanggung jawab personal untuk mencapai tujuan kelompok.
  4. Keterampilan interpersonal dalam kelompok kecil seringkali sangat dibutuhkan.
  5. Untuk memperbaiki kefektivan kelompok pada kegiatan yang akan dilaksanakan diperlukan berjalannya fungsi-fungsi dari potensi yang telah dimiliki secara teratur.

Relasi kooperatif yang sehat memerlukan 5 syarat prinsipil di atas. Demikian halnya dengan peer tutoring, belajar berpasangan, mediasi berpasangan, kelompok-kelompok kerja orang dewasa, suatu keluarga, semuanya memerlukan lima syarat pembelajaran kooperatif..

Interdependensi Positif

Syarat pertama dari proses pembelajaran kooperatif yang dibutuhkan adalah setiap siswa yang menjadi anggota kelompok harus memegang prinsip “tenggelam atau berenang bersama.” Dalam situasi pembelajaran kooperatif seperti ini, setiap anggota kelompok memiliki dua tanggung jawab: 1) mempelajari materi yang ditugaskan, dan 2) meyakinkan bahwa semua anggota kelompok mempelajari materi yang ditugaskan tersebut (saling mengingatkan). Istilah teknis untuk tanggung jawab ganda inilah yang disebut interdependensi. Situasi interdependensi positif dapat diciptakan ketika siswa memiliki persepsi bahwa ia terkait dengan mitra kelompoknya sedemikian rupa sehingga ia tidak akan sukses kecuali seluruh mitra anggota kelompok lainnya sukses (dan sebaliknya) dan/atau bahwa mereka harus mengkoordinasikan upayanya dengan upaya dari anggota kelompok lainnya untuk memenuhi tugas yang diberikan. Interdependensi positif menciptakan suatu situasi di mana siswa: 1) memandang bahwa kinerjanya menguntungkan kelompok dan kinerja kelompok menguntungkannya, dan 2) bekerja dalam satu kelompok kecil untuk memaksimalkan proses belajar dari seluruh anggota kelompok melalui saling berbagi sumber belajar sehingga terjadi saling mendukung dan saling meningkatkan rasa percaya diri dan merayakan sukses bersama. Ketika interdependensi positif terjadi maka tampak jelas situasi:

  • Setiap upaya dari anggota kelompok sangat dibutuhkan dan tidak bisa diabaikan demi sukses kelompok (dengan kata lain tidak ada anggota kelompok yang tidak berpartisipasi).

Setiap anggota kelompok memiliki kontribusi yang unik dalam kerangka upaya bersama kelompok karena sumber/potensi/perannya dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya memang unik.

Ada beberapa cara untuk strukturisasi interdependensi positif dalam suatu kelompok belajar:

  1. Yakinkan persepsi siswa bahwa ia akan mencapai tujuan belajarnya apabila semua anggota kelompoknya memperoleh tujuan belajar tersebut. Setiap kelompok akan disatukan oleh tujuan bersama  — suatu alasan konkrit untuk apa mereka bertindak. Untuk meyakinkan bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama” dan saling peduli apa yang mitra anggota lain dalam kelompok kerjakan, seorang guru harus menstrukturisasi tujuan kelompok atau tujuan bersama, seperti “mempelajari materi yang ditugaskan dan meyakinkan bahsa semua anggota kelompok mempelajari materi yang ditugaskan.” Tujuan kelompok harus senantiasa menjadi bagian dari tujuan pembelajaran.
  2. Reward Positif, — Setiap anggota kelompok yang sedang merayakan keberhasilan harus memperoleh penghargaan yang sama ketia kelompok berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. Untuk mendukung tercapainya tujuan interdependensi, seorang guru bisa memberikan harapan untuk mendapatkan penghargaan bersama (misalnya apabila semua anggota kelompok mendapatkan skor 90% atau lebih dalam suatu tes, setiap anggota menerima bonus 5 poin). Kadang-kadang seorang guru memberi siswa: 1) nilai kelompok untuk produktivitas secara keseluruhan dari kelompok mereka, 2) nilai individual sebagai hasil dari tes, dan 3) bonus poin jika semua anggota kelompok mencapai keiteria dari suatu tes. Perayaan secara teratur dari sukses upaya kelompok akan mempertahankan kualitas dari pembelajaran kooperatif.

Interdependensi sumber belajar secara positif. Setiap siswa hanya memiliki sebagian dari porsi sumber belajar, informasi, atau materi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas secara keseluruhan; sumber-sumber dari setiap anggota dikombinasikan untuk kelompok dalam rangka mencapai  tujuan pembelajaran. Para guru idealnya memberikan penekanan pada relasi kooperatif dengan meberi siswa sumber-sumber belajar yang terbatas yang harus dibagikan (satu copy masalah atau tugas per kelompok) atau memberikan setiap siswa  bagian-bagian dari sumber belajar yang dibutuhkan yang kemudian harus dasatukan menjadi satu konsep utuh oleh kelompok (sebagaimana dalam prosedur jigsaw).

 

Interdependensi peran yang positif. Setiap anggota kelompok diberikan tugas tertentu secara terkait dan komplementer satu sama lain sehingga ada peran dan tanggung jawab yang spesifik yang sangat dibutuhkan oleh kelompok secara keseluruhan untuk menyelesaikan tugas kolektif tersebut. Guru membagi peran yang saling terkait dan saling bergantung di antara seluruh siswa seperti membaca, merekam, elaborator pengetahuan, motivator partisipasi, dan petugas verifikasi pemahaman. Peran-peran seperti ini amat vital bagi pembelajaran berkualitas tinggi. Peran dari petugas verifikasi pemahaman misalnya, fokus pada tugasnya yang secara periodik menanyakan kepada teman sekelompoknya apa saja yang telah dipelajari. Rosenshine dan Stevens (1986) mereview banyak sekali hasil penelitian tentang keefektivan kegiatan pembelajaran di jenjang pendidikan pra PT dan menemukan bahwa “check pemahaman” menjadi salah satu perilaku pembelajaran yang spesifik yang secara signifikan berasosiasi dengan hasil belajar yang lebih tinggi. Meskipun guru tidak dapat secara terus menerus memverifikasi pemahaman dari setiap siswa,  namun , guru dapat merekayasa siswa bekerja dalam kelompok kelompok kooperatif dan menugaskan salah satu anggota berperan sebagai juru verifikasi pemahaman

 

Ada juga tipe lain dari interdependensi positif. Interdependensi positif akan muncul ketika suatu divisi pekerja diciptakan sehingga aksi dari satu kelompok sehingga penyelesaian tugas salah satu anggota kelompok jika anggota kelompok yang berikutnya menyelesaikan tanggung jawabnya. Interdependensi identitas secara positif terjadi ketika suatu hubungan timbal balik identitas dibentuk melalui suatu nama atau motto. Meskipun demikian kadang kadang muncul ancaman interdependensi dari luar ketika kelompok-kelompok yang ada berada pada posisi saling berkompetisi satu sama lain. Kadang-kadang juga terjadi interdependensi fantasi yaitu ketika suatu tugas diberikan kepada setiap anggota kelompok untuk membayangkan suatu situasi hipotetis.

Kami telah berhasil menyelenggarakan serangkaian penelitian yang mengamati tentang interdependensi positif dan kekuatan relatif dari tipe interdependensi positif yang berbeda.  (Hwong, Caswell, Johnson, & Johnson, 1993; Johnson, Johnson, Ortiz, & Starme, 1991; Johnson, Johnson, Stanne, & Garibaldi, 1990; Low, Mesch, Johnson, & Johnson, 1986a, 1986b; Mesch, Johnson, & Johnson, 1988; Mesch, Lew, Johnson, & Johnson, 1986). Penelitian kami tersebut mengindikasikan bahwa interdependensi positif menyebabkan terjadinya konteks di mana interaksi yang promotif terjadi. Keanggotaan kelompok dan interaksi interpersonal di antara siswa tidak menghasilkan hasil belajar yang lebih tinggi kecuali interdependensi positif direncanakan secara sistematis. Kombinasi dari tujuan dan interdependensi penghargaan akan menambah pencapaian melampaui tujuan interdependensi itu sendiri dan interdependensi sumber tidak akan menambah pencapaian hasil belajar kecuali interdependensi tujuan juga ada.

.

Interaksi Promotif secara Tatap Muka

 

Dalam suatu organisasi industri, yang dihitung hanyalah upaya kelompok. Tidak ada ruang bagi munculnya bintang dalam suatu organisasi industri. Anda membutuhkan orang-orang bertalenta, tapi ia takkan bias bekerja sendiri. Mereka harus dibantu.

(John F. Donnelly, President, Donnelly Mirrors)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: