Case Study

Contoh Case Study

DOMINASI PERAN KELOMPOK ELITE

Oleh: SW Widodo

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

Hari itu penulis menjadi observer di suatu kelas Bahasa Inggris SMA di Kabupaten Blora. Ketika meminta pertimbangan ke salah seorang Pengawas di Dinas Pendidikan Kabupaten, Saya mendapat kejutan dengan pernyataan beliau bahwa sekolah yang akan Saya kunjungi berkualitas setara dengan RSBI. Maka Saya  pun  meluncur ke sekolah yang dimaksud. Kebetulan Bapak Kepala Sekolah  berkesempatan berpartisipasi juga sebagai observer. Jadi observasi kami lakukan bertiga, Saya, Pengawas dan Kepala Sekolah.

Karena kegiatannya adalah presentasi  bahasa Inggris, maka tempat yang paling ideal adalah di lab bahasa. Setelah siswa siap, maka kegiatan pembelajaran pun dimulai. Setelah kegiatan prosedural, termasuk mempersiapkan presentasi dengan cara copy file ke komputer induk, maka kegiatan inti pun berlangsung.

Keterampilan bahasa yang dilatihkan saat itu adalah speaking (keterampilan berbicara). Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok memiliki tugas yang berbeda-beda. Materi presentasi per kelompok meliputi antara lain beberapa topik dari Biologi dan Fisika, Presentasi setiap kelompok diwakili 3 orang  yang tampil di depan, sementara yang duduk di bangku tetap bisa berpartisipasi dengan memberikan tanggapan atas pertanyaan kelompok lain. Kegiatan berjalan dengan sangat lancar dan begitu menyenangkan, yang bisa dilihat dari ekspresi semua siswa. Baik Guru maupun Siswa tidak terpengaruh dengan kehadiran kami bertiga.

Setelah presentasi kelompok kedua, maka masalah pun mulai tampak. Siswa yang bertanya atau memberikan tanggapan hanya beberapa saja. Semakin lama, beberapa siswa tersebut intensitas partisipasinya semakin tinggi, sementara siswa yang lain kebanyakan diam seribu bahasa.

Terdapat perbedaan mendasar antara kerja kelompok biasa dengan kerja kelompok yang didesain secara kooperatif. Sekelompok siswa yang bekerja bersama mengelilingi satu meja sangat berbeda dengan sekelompok siswa yang secara sistematis dan terencana bekerjasama secara kooperatif. Pada sekelompok siswa yang duduk bersama satu meja, berbincang banyak hal, namun tidak terstruktur dalam kelompok kooperatif,  tidak akan terjadi proses interdependensi (saling kebergantungan) secara positif. Barangkali kelompok seperti ini bisa dikatakan sebagai belajar individualistik sambil berbincang-bincang. Untuk menjadi suatu situasi belajar kooperatif dibutuhkan suatu tujuan bersama yang bisa diterima semua anggota kelompok di mana  keseluruhan anggota kelompok diberikan reward atas upayanya. Jika suatu kelompok siswa ditugaskan menyusun suatu laporan, namun hanya satu orang saja yang mengerjakan dan anggota yang lain hanya bercanda saja, maka tidak bisa dikatakan kelompok kooperatif. Suatu kelompok kooperatif memiliki rasa tanggung jawab individual yang berarti semua anggota membutuhkan pengetahuan tentang materi pembelajaran agar kelompok secara keseluruhan bisa disebut sukses (Roger T. dan David W. Johnson: 2009). Interdependensi tujuan positif mensyaratkan penerimaan semua anggota kelompok dengan prinsip “tenggelam atau berenang bersama.”

Hanya dalam situasi tertentu suatu upaya kooperatif bisa diharapkan lebih produktif dibandingkan upaya individualistik dan kompetitif. Situasi dan kondisi yang harus diciptakan dalam suatu pembelajaran kooperatif adalah:

  1. Terjadinya proses interdependensi (saling bergantung) yang dapat diamati dengan jelas.
  2. Terjadi interaksi promotif (face-to-face) yang sangat intensif.
  3. Dapat diamatinya dengan jelas tanggung jawab setiap individu dan tanggung jawab personal untuk mencapai tujuan kelompok.
  4. Keterampilan interpersonal dalam kelompok kecil seringkali sangat dibutuhkan.

Untuk memperbaiki kefektivan kelompok pada kegiatan yang akan dilaksanakan diperlukan berjalannya fungsi-fungsi dari potensi yang telah dimiliki secara teratur.

Syarat pertama dari proses pembelajaran kooperatif yang dibutuhkan adalah setiap siswa yang menjadi anggota kelompok harus memegang prinsip “tenggelam atau berenang bersama.” Dalam situasi pembelajaran kooperatif seperti ini, setiap anggota kelompok memiliki dua tanggung jawab: 1) mempelajari materi yang ditugaskan, dan 2) meyakinkan bahwa semua anggota kelompok mempelajari materi yang ditugaskan tersebut (saling mengingatkan). Istilah teknis untuk tanggung jawab ganda inilah yang disebut interdependensi. Situasi interdependensi positif dapat diciptakan ketika siswa memiliki persepsi bahwa ia terkait dengan mitra kelompoknya sedemikian rupa sehingga ia tidak akan sukses kecuali seluruh mitra anggota kelompok lainnya sukses (dan sebaliknya) dan/atau bahwa mereka harus mengkoordinasikan upayanya dengan upaya dari anggota kelompok lainnya untuk memenuhi tugas yang diberikan. Interdependensi positif menciptakan suatu situasi di mana siswa: 1) memandang bahwa kinerjanya menguntungkan kelompok dan kinerja kelompok menguntungkannya, dan 2) bekerja dalam satu kelompok kecil untuk memaksimalkan proses belajar dari seluruh anggota kelompok melalui saling berbagi sumber belajar sehingga terjadi saling mendukung dan saling meningkatkan rasa percaya diri dan merayakan sukses bersama. Ketika interdependensi positif terjadi maka tampak jelas situasi:

  • Setiap upaya dari anggota kelompok sangat dibutuhkan dan tidak bisa diabaikan demi sukses kelompok (dengan kata lain tidak ada anggota kelompok yang tidak berpartisipasi).
  • Setiap anggota kelompok memiliki kontribusi yang unik dalam kerangka upaya bersama kelompok karena sumber/potensi/perannya dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya memang unik.

Relasi kooperatif yang sehat memerlukan 5 syarat prinsipil di atas. Demikian halnya dengan kepala sekolah dan para guru, peer tutoring, belajar berpasangan, kelompok-kelompok kerja orang dewasa, suatu keluarga, semuanya memerlukan lima syarat pembelajaran kooperatif.

Pada berbagai kesempatan melakukan pengamatan kegiatan pembelajaran, beberapa indikator kooperatif ini belum muncul, baik sebagian atau seluruhnya. Padahal ada paling tidak tiga kemampuan yang amat urgen yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita menghadapi era globalisasi teknologi informasi: kemampuan menggunakan Teknologi Informasi, Kemampuan bekerjasama secara kooperatif, dan berpikir tingkat tinggi (UNESCO, Intel Teach-Indonesia, DBE, JICA). Mari hal ini kita renungkan bersama dan segera kita implementasikan.

Rembang 24 November 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: